Jejak Prabu Siliwangi di “Leuweung” Sancang

Posted: Maret 12, 2012 in Uncategorized

oleh: Bayu Bharuna

Pemimpin haruslah memiliki karakter menggurat batu,

menggaris tanah dan membelah air

(dari Carita Parahiyangan)

Tradisi lisan mengenai tokoh Prabu Siliwangi hidup dalam benak dan hati orang Sunda. Tatkala kesatuan tentara untuk menjaga kemerdekaan Indonesia di Jawa Barat terbentuk, para komandannya sepakat menamakan Divisi Siliwangi. Pemilihan nama tersebut didasarkan atas kebesaran dan keidealan Prabu Siliwangi dalam pandangan dan kepercayaan masyarakat Jawa Barat. Diharap dengan menggunakan nama Siliwangi dan lambang harimau, tumbuh rasa percaya diri, kekuatan mental dan semangat berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan.

Legenda Prabu Siliwangi

Legenda tentang Siliwangi merupakan cerita yang tak ada habisnya dalam masyarakat Sunda. Prabu Siliwangi dianggap sebagai Raja Pajajaran yang terbesar dan termashur. Ia memiliki kekuatan gaib dan diyakini tak pernah wafat, namun hanya menghilang raganya dari dunia materi (Sunda: ngahiang). Ruhnya tetap hidup dan berada di wilayah Tatar Sunda dan secara gaib melindungi orang Sunda yang berada dalam kesulitan. Sewaktu-waktu ruh Sang Prabu dapat menampakkan diri dalam bentuk harimau besar (maung lodaya).

Kalangan sesepuh percaya bahwa ruh Prabu Siliiwangi dapat diundang maupun tidak diundang masuk ke dalam badan seseorang dan melalui orang itu Sang Prabu akan memberi amanat atau petunjuk. Biasanya orang yang kesurupan tersebut bersikap seperti seekor harimau, karena kemasukan ruh harimau jadi-jadian pengikut Prabu Siliwangi. Bahkan sebagian orang meyakini bahwa Prabu Siliwangi menurunkan wangsit kepada masyarakat Sunda agar kejayaan Pajajaran tercapai kembali.

Mitos tentang Prabu Siliwangi hidup pula di sekitar tempat-tempat yang dipercaya sebagai lokasi yang ada hubungannya dengan Sang Prabu. Di tanah Sunda banyak tempat yang diyakini merupakan jejak dan peninggalan Prabu Siliwangi, ada yang berupa bekas tempat tinggal, tempat ngahiang (menghilang), pernah didatangi, pernah dilalui, dan lain-lain. Beberapa lokasi keramat tersebut antara lain bekas keraton Leuwi Sipatahunan, prasasti Batutulis, dan tempat ngahiang di Gunung Gede, Leuweung Sancang (Garut), curug Puntang (Gunung Malabar, Bandung) dan sumur Jalatunda (Brebes).

Kawah candradimuka

Kawasan Sancang di pesisir Garut Selatan merupakan salah satu kawah candradimuka bagi anggota PLW. Di sini biasanya merupakan medan penggojlokan anggota muda dengan melakukan penyusuran pantai. Medan susur pantai yang berat ini memakan waktu 3-4 hari dan mengambil start di pantai Santolo atau Sayang Heulang dan berakhir di pantai Sancang atau Cipatujah.

PENYEBERANGAN BASAH – Penyeberangan muara sungai di pantai Sancang saat masa bimbingan angkatan Tapak Sanggara dari Santolo ke Cipatujah. Foto: PLW/Rully Edward.

Medan susur pantai menuju pesisir Sancang menjanjikan arena petualangan yang liar dan keras (lihat tulisan Menatap Bintang di Sancang). Sengatan matahari yang terik membakar, fatamorgana, serta debu pasir yang beterbangan seringkali menjatuhkan mental. Muara-muara sungai harus diseberangi dengan amat hati-hati dan penuh perhitungan. Terkadang kitapun harus melambung jauh menerobos pekatnya hutan bakau. Sementara pada malam hari nyamuk-nyamuk muara yang terkenal ganas siap menerkam setiap permukaan kulit.

Namun selain semua tantangan dan kesulitan tersebut, pantai Sancang merupakan surga tersendiri. Pesisir pasir putih dengan ombak yang tenang serta hutan yang perawan merupakan imbalan setimpal beratnya perjalanan. Hamparan rumput laut dan terumbu karang yang masih alami semakin memperkokoh pesona magis pantai Sancang.

Amanat masa silam

Di dalam leuweung (hutan) Sancang kerap didapati tempat-tempat yang dipakai untuk menyepi atau bertapa, entah pemujaan kepada Sang Prabu atau bukan. Sesajen maupun persembahan lain bertebaran diantara kerimbunan hutan pesisir. Demikian pula di dalam gua-gua yang banyak terdapat dalam hutan merupakan tempat yang ideal untuk melakukan pertapaan. Tak heran walaupun di siang hari suasana di dalam leuweung Sancang terasa klenik.

PENYEBERANGAN BASAH – Penyeberangan muara sungai di pantai Sancang saat masa bimbingan angkatan Tapak Sanggara dari Santolo ke Cipatujah. Foto: PLW/Bayu Bharuna.

Sebagai individu yang tumbuh dalam kelompok masyarakat ilmiah sivitas akademika, saya yakin setiap anggota PLW berpikir kritis terhadap tradisi maupun mitos di leuweung Sancang. Sebagai tokoh legenda, keberadaan Prabu Siliwangi sendiri masih diperdebatkan, yaitu apakah sebagai tokoh sejarah yang benar-benar ada atau mitos belaka. Namun kekritisan itu tak melunturkan rasa hormat dan respek yang besar terhadap legenda yang ada maupun tempat-tempat keramat tersebut.

Saya pribadi selalu yakin di samping keberadaan mitos-mitos tersebut selalu ada hikmah yang ingin diwasiatkan oleh para leluhur agar kita menjaganya. Dalam cerita Parahiyangan, disebutkan keutamaan karakter seorang pemimpin pemerintahan seperti ngagurat batu, ngagurat lemah jeung ngagurat cai. Menggores batu, maksudnya berwatak teguh (batu itu benda keras sehingga goresannya bertahan lama). Menggaris tanah, maksudnya berwatak menentukan hal yang mesti dijalani (tanah itu biasa dipijak untuk berjalan dan jejaknya bisa dipakai petunjuk jalan). Membelah air, maksudnya bersikap dapat menyejukkan konflik (air dibelah tak berpisah melainkan cepat bersatu kembali).***

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s